keindahan hujan masih tertempel di benak saya. hujan yang turun tak melulu menyebalkan, namun terdapat lukisan indah yang menghiasi langit kala itu.
hujan kadang kala membuat sebagian makhluk bumi menggerutu, namun ada sebagian yang mensyukurinya dan menganggapnya suatu berkah. saya bisa menjadi keduanya, namun tetap saja saya menyukai hujan. wangi kala hujan menyentuh jalan dan daun - daun adalah wewangian yang saya sukai. wangi yang menyenangkan dan membuat saya berimajinasi sampai akhirnya melantunkan lagu dari bibir saya.
keindahan hujan, keindahan tersendiri dalam fenomena alam. terkadang akan terdapat goresan cahaya di dalam abu - abunya langit lalu keluar suara menggelegar yang menakutkan. di dalam suara menakutkan itu terdapat suara alunan dari rintikkan air hujan yang menginjakkan kakinya di bumi sehingga menjadi sebuah simphoni alam yang merdu.
hujan..ya kau hujan yang mengundang banyak keluh kesah dan kebahagiaan bagi kami. hujan yang terkadang datang tanpa permisi. hujan yang menebarkan wangi alaminya untuk indra penciuman manusia. kau begitu menarik perhatian bagi segelintir manusia di muka bumi.
seandainya saya bisa melukis, saya pasti akan melukis keindahanmu. saya akan menempatkanmu pada sebingkai kanvas dengan goresan - goresan kuas yang bercampur cat minyak.
hujan..tetaplah menjadi keindahan tersendiri dalam fenomena alam.
Sabtu, 22 Oktober 2011
Minggu, 09 Oktober 2011
terpasung dalam waktu
langit tidak cerah namun juga tidak menitikkan air - air kehidupan. lantas, bagaimana bentuk langitnya? hanya datar dan sedikit muram.
baik, itu sedikit tentang langit hari ini. lalu, pasti saya akan bertanya bagaimana kabar saya hari ini? kabar yang menjemukkan sekali. kabar yang itu - itu saja. emosi menyeruak dalam ruang gelap tanpa adanya peringatan. kerongkongan yang sudah kering tanpa ada sedikitpun cairan untuk teriakkan semua yang ada dalam labirin diri. entah sudah lelahkah saya dalam menapaki semua permasalahan ini sampai untuk teriak pun hanya teriakkan tanpa suara.
lagi, saya merasa terpasung dalam waktu. tanpa berkutik namun ingin meronta, saya menatap lembaran - lembaran yang melaju tanpa jeda.
beri saya waktu walau hanya sedetik untuk berlaku liar. suatu tindak keliaran yang dapat membebaskan saya dari pasungan ini. tindakan liar yang bisa memberi saya kepuasan batin dalam menghadapi lembaran waktu.
keluarlah!! cepatlah buka pasungan ini!! saya sesak, saya jenuh dan saya ingin bebas!! saya ingin menapaki lagi tantangan kehidupan bukannya yang melulu berkelut dengan masalah kompleks, masalah yang itu - itu saja. mungkin saya ingin bertingkah layaknya binatang yang mempunyai naluri kehewanan yang bebas atau mungkin, haruskah saya mempunyai kelainan jiwa yang memiliki kebebasan tanpa perlunya terpasung dalam lembaran waktu?
umpatlah, teriaklah, cabiklah untuk meredamkan emosi diri yang terbelenggu.
baik, itu sedikit tentang langit hari ini. lalu, pasti saya akan bertanya bagaimana kabar saya hari ini? kabar yang menjemukkan sekali. kabar yang itu - itu saja. emosi menyeruak dalam ruang gelap tanpa adanya peringatan. kerongkongan yang sudah kering tanpa ada sedikitpun cairan untuk teriakkan semua yang ada dalam labirin diri. entah sudah lelahkah saya dalam menapaki semua permasalahan ini sampai untuk teriak pun hanya teriakkan tanpa suara.
lagi, saya merasa terpasung dalam waktu. tanpa berkutik namun ingin meronta, saya menatap lembaran - lembaran yang melaju tanpa jeda.
beri saya waktu walau hanya sedetik untuk berlaku liar. suatu tindak keliaran yang dapat membebaskan saya dari pasungan ini. tindakan liar yang bisa memberi saya kepuasan batin dalam menghadapi lembaran waktu.
keluarlah!! cepatlah buka pasungan ini!! saya sesak, saya jenuh dan saya ingin bebas!! saya ingin menapaki lagi tantangan kehidupan bukannya yang melulu berkelut dengan masalah kompleks, masalah yang itu - itu saja. mungkin saya ingin bertingkah layaknya binatang yang mempunyai naluri kehewanan yang bebas atau mungkin, haruskah saya mempunyai kelainan jiwa yang memiliki kebebasan tanpa perlunya terpasung dalam lembaran waktu?
umpatlah, teriaklah, cabiklah untuk meredamkan emosi diri yang terbelenggu.
Selasa, 04 Oktober 2011
penolongku, air mata
aku memang termasuk salah seorang yang mudah menangis. wanita cengeng, mungkin begitu sebutannya. seperti hari ini, semuanya terpecah. butiran - butiran lembut itu menyentuh pipiku. butiran itu
layaknya hujan, yang mulanya hanya gerimis menjadi deras dan semakin deras. emosiku yang sudah terpendam, keluar begitu saja.
tenangkah? mungkin, mungkin aku merasa ketenangan itu menghampiriku. menyejukkanku walau hanya sesaat. namun, memang begitu caraku mendapatkan ketenangan dari masalah yang memuakkanku.
aku merasa muak pada hal - hal yang berputar - putar tak tentu arah. ingin sekali bahkan sangat ingin aku menghancurkan apa pun yang ada depan pelupuk mataku. mematahkan semua yang menghalangiku. namun, hanya perasaan ingin yang terus berkumpul hingga akhirnya tak ada satu pun yang aku lakukan.
air mata ini menyelamatkanku dari kubangan yang belum kudapat jalan keluarnya dan air mata ini entah kapan lagi akan melakukan hal yang sama untukku. terimakasih..
layaknya hujan, yang mulanya hanya gerimis menjadi deras dan semakin deras. emosiku yang sudah terpendam, keluar begitu saja.
tenangkah? mungkin, mungkin aku merasa ketenangan itu menghampiriku. menyejukkanku walau hanya sesaat. namun, memang begitu caraku mendapatkan ketenangan dari masalah yang memuakkanku.
aku merasa muak pada hal - hal yang berputar - putar tak tentu arah. ingin sekali bahkan sangat ingin aku menghancurkan apa pun yang ada depan pelupuk mataku. mematahkan semua yang menghalangiku. namun, hanya perasaan ingin yang terus berkumpul hingga akhirnya tak ada satu pun yang aku lakukan.
air mata ini menyelamatkanku dari kubangan yang belum kudapat jalan keluarnya dan air mata ini entah kapan lagi akan melakukan hal yang sama untukku. terimakasih..
Langganan:
Komentar (Atom)