Sabtu, 29 Januari 2011

Nostalgia dengan Stick dan Bolanya

aku masuk ke tempat yang penuh dengan meja khusus, lagu yang berkumandang dengan keras, penjaga - penjaga yang untuk kaum pria pasti mengatakan mereka sexy. sudah lama rasanya aku tidak menginjakkan kakiku di tempat seperti ini. sudah lama juga tangan ini tidak menyentuh stick untuk menyodokkan bola ke dalam lubang - lubangnya pada meja itu. tempat bermain billiard ya sudah lama aku tidak bermain billiard. kangen juga dengan permainan ini.
aku memang tidak ahli dalam memainkannya tapi tangan ini sudah gatal ketika memegang sticknya. rasanya ingin memasukkan semua bola ke dalam lubangnya.
aku teringat ketika aku masih berseragam putih abu, aku dan teman - temanku sering bermain billiard ketika kami sedang mumet. tiba - tiba saja saya merindukan masa - masa itu. tapi yah itu sebuah kenangan yang cukup untuk dikenang.
tanpa terasa permainan ini sudah mencapai waktu satu jam. ya, kami hanya bermain dalam waktu satu jam karena jujur saja terkadang permainan ini menyenangkan tapi bisa juga membosankan.
bola - bola itu tampak mengejekku ketika aku tidak bisa memasukkannya hahaha. lihat saja nanti akan kubalas tawamu dengan kehebatanku dalam memainkan stick ini. nanti, pasti aku akan bermain lagi, tunggu saja.

Senin, 24 Januari 2011

Langka


Puncak, 23 Januari 2011, lelah dan kedinginan itulah perasaan yang timbul ketika kami dalam perjalanan pulang. Petualangan kami yang harus diguyur hujan yang tidak bersahabat saat itu. beruntung bertemu dengan tukang bakso yang kebetulan ada tempat untuk neduhnya. alhasil, makanlah kami di situ. ya, aku dan temanku menghangatkan badan dengan menyantap bakso yang benar - benar enak dan kami sangat kelaparan.
hujan masih belum berhenti ketika kami sedang menikmati bakso, semakin deras yang ada. mungkin ada hikmahnya dibalik ini semua itulah yang ada dipikiran kami. setelah kira - kira setengah jam kami menunggu, hujan mereda, hanya tinggal gerimis. lanjutkan perjalanan ini!! semangat '45.
memang sudah menjadi kebiasaan kami, di atas motor kami selalu bernyanyi. ketika itulah kami melihat indahnya langit setelah hujan. Yup, melihat matahari tenggelam. langit sore yang berwarna orange dengan sedikit kehitaman awan mendung. mungkin inilah maksud Tuhan mengadakan hujan tadi supaya kami dapat melihat keindahan ini. tanpa melewatkan suasana saat itu, kami menepi dan mulai foto - foto. kelakuan yang memang sudah bawaan lahir tampaknya.
indah dan tenang rasanya.walaupun kami menggigil tapi suasana itu membuat kami terus bersemangat. hal yang jarang bisa kami lihat.
tapi, janji tetaplah janji. kami berjanji hari itu kalau Tuhan mendengar doa kami untuk meredakan hujan, kami akan ke gereja. Tuhan mengabulkan doa kami dan memberi kami hadiah yang luar biasa indah. Jam menunjukkan sudah pukul setengah 7, mungkin kami akan terlambat tapi kami tetap harus menepati janji. Terimakasih Tuhan, kami masih boleh menikmati ini semua.

Selasa, 18 Januari 2011

Sayap - Sayap Patah

burung itu terbang tinggi sekali. dia terbang dengan perasaan bahagia walaupun tidak ditemani oleh burung - burung yang lain. menembus gumpalan - gumpalan awan sambil bersiul merdu. beberapa hari ini dia selalu begitu, dia bahagia dengan sayap - sayap indahnya yang mengiringi kebahagiaan di hatinya.
senyum itu tampak jelas sekali. siulan senang itu terdengar merdu. kepakkan indah sayapnya menghiasi langit. terbang dengan tinggi menggapai langit. beberapa burung lain yang memperhatikannya tampak heran, ada apa gerangan ? mengapa ia tampak sangat bahagia ? tapi burung itu tidak peduli akan pertanyaan mereka.
"aku sedang bahagia, jangan usik perasaanku saat ini",ucap si burung dalam hati. dia tidak mempedulikan perkataan burung lain yang menyuruhnya supaya tidak terbang terlalu tinggi. dia tetap melakukan apa yang dia sukai saat itu.
sampai akhirnya saat dia sedang terbang tinggi sekali, sayap - sayapnya perlahan mengalami keretakan. dia bingung kenapa sayap ini bisa retak. dia sadar saat itu pasti dia akan terjatuh tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk menguatkan dirinya. saat ia mencoba kuat, sayap - sayap itu patah dengan sempurna. layaknya sedang terjun bebas, badannya menghantam tanah. sakit, itulah rasanya. dia berusaha untuk tidak menangis. saat burung - burung lain menghampirinya, dia hanya tersenyum dan berkata "aku baik - baik saja jangan cemas."
dia masih terdiam di tanah tempatnya jatuh. sendirian. hampa. dia pun menangis sekencang - kencangnya. menangis dalam gelapnya malam. dia sadar esok pagi dia sudah tidak akan ada di sana lagi. ya, dia akan mati dan hanya raganya yang tersisa esok.