13 Januari 2013, Minggu,, tepatnya sore hari menjelang maghrib. aku bersama teman temanku sedang nongkrong di sebuah warkop pinggir jalan. saat kami sedang berbincang diselingi canda tawa, saat itulah terdengar suara rem ditarik kencang dan "BRAAAAKKK" suara tabrakan yang mengakibatkan motor terjatuh.
kami kira hanya motor terpeleset karena saat itu jalanan basah terguyur hujan. namun, perkiraan kami salah, ada seorang ibu terkapar di jalan itu. di jalan bergaris - garis putih itu ia terpelanting. warga termasuk teman - temanku berkerumun di tempat kejadian. ibu yang menjadi korban itu langsung digotong menuju klinik. tanpa lupa sang penabrak pun turut digiring ke klinik.
aku dan stella (temanku) hanya berdiam diri di depan warkop tempat kita nongkrong. bukan tidak mau menolong, namun kami menyadari kelemahan kami yang tidak sanggup menolong. sebelum melewati kami, aku sempat melihat ibu itu muntah - muntah air sangat banyak. sampai akhirnya dia melewati kami, matanya menatap kami yang melihatnya dengan bersimbah darah di dahi sampai pipi. berdarah sangat banyak.
aku ingin sekali menitikkan air mataku saat melihat itu. namun, aku hanya bisa ternganga melihatnya. sedih sekali membayangkan orang tua itu sedang menyebrang namun justru nyawanya menjadi taruhannya. setelah ditelusuri ternyata beliau adalah warga kampung lurah, seberang tempat ia menyebrang.
tragis sungguh, melihat ia menyebrang di jalur yang benar yaitu zebra cross namun tetap saja ia harus mempertaruhkan nyawanya. aku membayangkan bagaimana jika ia adalah aku, atau bagaimana jika ia adalah ibuku. bagaimana perasaanku sebagai anaknya?
sampai saat ini, aku tidak tahu bagaimana keadaan beliau.
Tuhan, aku hanya minta jika Engkau menyelamatkan nyawanya, beri kekuatan padanya supaya lekas sehat dan dapat beraktivitas seperti biasa. namun, jika Engkau memanggil nyawanya, beri kekuatan sebesar - besarnya bagi keluarga yang ditinggalkan.